Kamis, 07 Agustus 2008

Dimana Aku Berada...??

“Selamat Datang Mahasiswa Baru”, demikian slogan di spanduk tulisan itu. Cukup besar dan hampir ditemui di tiap perguruan tinggi ibukota ini. Slogan itu juga ditemui di kampus perjuangan, di jalan Sawo Manila, Jakarta. Entah, mengapa aku memikirkan kata-kata dalam slogan iu. Apa karena kata-kata itu juga pernah menyambutku, tujuh tahun silam.

Mungkin kali ini agak berbeda. Dulu, ada bangga yang menyeruak ketika aku melihat sambutan semacam itu. Sebuah bayang menyelinap dalam benakku, bahwa aku bakal menjadi bagian dari komunitas intelektual yang akan memperjuangkan hati nurani rakyat. Bergabung dengan orang-orang yang mampu melawan kezaliman seperti tahun 1998 itu. Tapi, itu dulu, sepuluh tahun lalu, tatkala aku tengah menginjak kelas tiga di bangku sekolah menengah pertama.

Kini, setelah tujuh tahun berada di kampus yang katanya punya nama harum di jajaran perguruan tinggi di Indonesia, bayang harapan itu mulai redup. Yang kulihat lain. Tak banyak ku punya impian membangun komunitas itu. Yang banyak kulihat hanyalah generasi yang berlomba-lomba dengan impian pribadinya masing-masing.

Yang kulihat hanyalah orang-orang seperti zombi, yang berkarakter sama satu dengan lainnya. Manusia yang hanya mengisi ruang waktunya tak lebih untuk dirinya sendiri. Datang kuliah, berharap nilai A, lalu pulang ke kost/rumah atau pacaran dengan kekasih pujaannya. Setelah itu lulus, kerja di perusahaan, dapat gaji besar, menikah, dan anakku besok harus seperti aku. Tak peduli dengan orang lain, kelaparan kek, penyakitan kek, meringis atau sedih, yang penting bukan aku...

Tak ada sedikit damai saat ada segelintir yang tidak seperti itu. Memang tak semua yang memiliki pandangan atau kemauan seperti itu. Ada juga yang masih punya kesadaran, semangat dan nurani ketika ia berdiri sebagai seorang manusia. Mungkin mereka masih ‘bersih’ dari kepentingan-kepentingan yang ada di kampus ini. Yah, mereka mencoba memahami segala hal dan memberikan sumbangan bagi komunitas akademik atau lingkungannya. Tapi, mereka pun sering terkapar juga, saat ‘rumah’-nya ini dengan kebijakan-kebijakan yang mencoba memaksanya menjadi orang-orang individualis. Lihat saja, aturan-aturan itu, yang sering memaksa mereka untuk ‘mengakui’, bahwa kost/rumah dan kampus tak lebih hanya sebagai tempat singgah dan mendapat nilai A.

Padahal ada lain, yang mesti dipikirkan seorang mahasiswa selain kemampuan akademisnya semata. Perannya sebagai lokomotif perjuangan terhadap masyarakat sekitarnya merupakan simbol, mengapa ada kata ‘maha’ yang melekat di tubuhnya. Ia bukan robot, yang hanya bisa menerima segala sesuatu, kebijakan, aturan yang diberikan padanya. Ia manusia, yang seharusnya mampu memikirkan, menyikapi, bahkan mengkritisi, apakah sesuatu itu baik bagi perkembangannya sebagai intelektual. Ia bukan manusia yang hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tapi juga masyarakatnya. Ia pun harus berani mempertanyakan segala hal, entah apa yang terjadi di masyarakatnya atau yang terjadi di kampusnya.

Jika akhirnya ia hanya berada di kelas dan kost/rumah kemudian memadu kasih atau ajang ‘mencari jodoh’ di kampus, ia tak lebih dari seperti seekor katak, yang betah dalam tempurungnya. Yang hanya bisa ‘bernyanyi’ bersama katak-katak-katak yang lain. Jangankan kenal dan tahu lingkungan luarnya, kenal teman atau tempurungnya saja mungkin ia tidak. Atau mungkin, katak-katak ini tak ingin keluar ‘kandang’, karena terlalu takut jika-jika ada ular yang akan memangsanya??

Kini, mahasiswa kelihatannya menempatkan dirinya di tempat yang sulit dijamah masyarakat luas. Lihat saja, betapa masyarakat mulai bosan dengan tindak tanduknya. Bukan hanya masyarakat luas, lapangan-lapangan kerja pun banyak yang kecewa dan menolaknya, ketika mendapati bahwa mereka hanya berpengetahuan pas-pasan. Hanya bisa menghafal, menghafal, dan menghafal!


Lalu, kemana pemahaman tentang mahasiswa itu pergi? Di telan bumikah? Kalau di telan bumi, bukankah bumi ini hanya satu dan sedang kita pijak bersama? Di sebelah mana juga bumi ini menyembunyikan pemahaman tentang mahasiswa itu? Mungkinkah pemahaman itu dapat ditemukan dalam ruang-ruang kelas saja? Atau kita harus berani keluar mencarinya? Jika memang ada di luar, sekarang beranikah kita keluar, tidak hanya memenuhi ruang-ruang kelas, mengisi absen, lalu pulang? Beranikah kita...